Peran KUA Baturraden Terjun Langsung Identifikasi dan Rangkul Anak Tidak Sekolah (ATS) di Baturraden
Oleh KUA baturraden
Baturraden – Dalam upaya mengentaskan masalah putus pendidikan, sebuah langkah kolaboratif dilakukan oleh jajaran Kantor Urusan Agama (KUA) bersama Pemerintah Desa Pandak, Kecamatan Baturraden.Tim gabungan turun langsung ke lapangan untuk melakukan identifikasi dan pendekatan persuasif kepada Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayah tersebut. Senin (25/05)
Langkah ini merupakan bentuk kepedulian lintas sektoral guna memastikan setiap anak mendapatkan kembali hak dan akses pendidikan mereka demi masa depan yang lebih baik.
Sinergi yang solid terlihat dari komposisi tim yang diterjunkan. Tim kunjungan ini terdiri dari unsur pemuka agama dan aparatur pemerintahan desa, yaitu:
-
Fathurrochman (Penyuluh Agama KUA)
-
Rasito (Kepala Desa Pandak)
-
Nasum (Kepala Dusun 1)
-
Rizky Abdullah (Kepala Dusun 2)
Dalam pelaksanaannya, tim menyisir tiga sasaran utama, yakni Alea Pratiwi, Jaenal Ludfi Pratama, dan Aldo Pratama, yang masing-masing memiliki latar belakang dan alasan berbeda terkait putus sekolah.
Kunjungan pertama menyasar kediaman Alea Pratiwi, seorang remaja yang diketahui telah Drop Out (DO) saat duduk di bangku kelas VIII, sekitar tiga tahun silam. Saat Kepala Desa Rasito menanyakan alasannya berhenti sekolah, Alea tampak enggan dan tidak berkenan untuk menjawab.
Melihat kekakuan tersebut, Penyuluh Agama Fathurrochman mengambil inisiatif untuk mencairkan suasana. Ia menyampaikan maksud kedatangan tim dengan pendekatan psikologis dan jenaka khas seorang pendidik. "Ayo sekolah lagi. Persiapan buat masa depan. Dapat ilmu, dapat teman baru, dan masa depan akan lebih baik. Terutama nanti dapat jodoh yang baik juga, kan," bujuk Fathurrochman dengan hangat.
Pendekatan santai tersebut ternyata berhasil meruntuhkan dinding pertahanan Alea. Sebuah tawa kecil mengembang di wajahnya, sekaligus menjadi isyarat persetujuan dan kesediaannya untuk kembali melanjutkan sekolah.
Berbeda dengan Alea, tantangan lebih berat dijumpai pada sasaran kedua, Jaenal Ludfi Pratama. Ludfi diketahui telah putus sekolah sejak kelas 3 SD. Saat diajak berkomunikasi oleh Kadus 1 Nasum dan Kadus 2 Rizky, ia nyaris tidak merespons. Jawaban yang keluar dari mulutnya hanya sebatas "iya" dan "tidak", dan lebih banyak dihabiskan dengan diam tanpa isyarat.
Pemerintah desa sebenarnya telah beberapa kali melakukan pendekatan kepada keluarga Ludfi, namun anak tersebut tampaknya telah kehilangan motivasi belajar sepenuhnya. Menyikapi hal ini, tim menyadari bahwa dibutuhkan intervensi dari pihak yang lebih berwenang dan berkompeten di bidang psikologi anak atau pekerja sosial untuk melakukan pendekatan yang lebih mendalam dan komprehensif.
Kunjungan terakhir dilakukan di rumah Aldo Pratama. Kisah Aldo cukup memilukan; ia terpaksa putus sekolah sekitar setahun yang lalu karena harus merawat dan menemani sang ibu yang sedang dirawat di rumah sakit.
Diketahui sebelumnya, Aldo merupakan siswa di SMP Negeri 1 Baturraden, sebuah sekolah negeri unggulan yang menjadi idaman masyarakat setempat. Merespons situasi ini, Kades Rasito memberikan penekanan moral sekaligus jaminan kepada orang tua Aldo. Ia memastikan bahwa harapan untuk kembali ke sekolah unggulan tersebut belum tertutup rapat. "Ini belum terlambat. Nanti kami dari pihak desa akan bantu untuk lobi ke pihak sekolahnya," tegas Kades Rasito, memberikan angin segar bagi masa depan pendidikan Aldo.
Setelah menyelesaikan rangkaian pendekatan dari rumah ke rumah, Fathurrochman bersama Kadus 2 Rizky Abdullah langsung bergerak untuk menyusun laporan. Hasil identifikasi dan dinamika dari ketiga sasaran tersebut kemudian dilaporkan secara komprehensif kepada Tim Kecamatan Baturraden.
Data dan hasil evaluasi lapangan ini diharapkan dapat menjadi pijakan bagi Pemerintah Kecamatan dan Dinas Pendidikan terkait untuk mengambil langkah tindak lanjut yang tepat. Mulai dari fasilitasi pendaftaran ulang bagi Alea dan Aldo, hingga penyediaan pendampingan khusus bagi kasus demotivasi berat seperti yang dialami Ludfi. (Fth)
